Di era modern yang serba cepat dan kompleks ini, pertanyaan yang sering muncul dalam studi Islam adalah: apakah Al-Qur'an masih relevan untuk menjawab problem kekinian? Jawabannya tentu saja iya. Namun, relevansi itu tidak datang begitu saja. Ia membutuhkan upaya intelektual yang serius, salah satunya melalui pendekatan interdisipliner.
Dalam kuliah tamu yang disampaikan oleh Irhas (Dosen Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAIN Takengon) di Prodi S2 Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Raden Fatah Palembang, dijelaskan bahwa pendekatan interdisipliner adalah metode pengkajian yang mengintegrasikan dua atau lebih disiplin ilmu untuk memahami suatu fenomena. Tujuannya bukan untuk menggantikan wahyu, melainkan untuk menafsirkan maknanya sesuai konteks zaman.
Mengapa Interdisipliner Itu Penting?
Ada beberapa alasan mendesak mengapa pendekatan ini perlu dikuasai oleh para pengkaji Al-Qur'an:
-
Membantu menemukan solusi Qur'ani bagi problem kekinian.
-
Menghidupkan kembali nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan sosial modern.
-
Menguatkan peran tafsir sebagai living guidance (petunjuk hidup, bukan hanya teks mati).
-
Membuka ruang dialog antara agama dan sains.
Dengan kata lain, Al-Qur'an tidak boleh berhenti sebagai bacaan ritual, tetapi harus mampu berdialog dengan realitas. Di sinilah integrasi dan kolaborasi antar-disiplin memainkan perannya.
Ciri Utama: Integrasi dan Kolaborasi
Ada dua ciri utama dalam pendekatan ini:
-
Integrasi: penyatuan konsep, metode, dan teori antar-disiplin.
-
Kolaborasi: kerja sama pakar/ilmuwan dari berbagai bidang untuk hasil yang lebih komprehensif.
Lalu, bagaimana langkah kerja dan contoh aplikasinya dalam penafsiran? Mari kita bedah satu per satu.
Langkah Kerja Interdisipliner dalam Penafsiran
Langkah 1: Menentukan Masalah & Tema
Pilih isu aktual yang benar-benar terjadi di masyarakat. Misalnya: kecanduan gim online (Internet Gaming Disorder/IGD). Tema Qur'aninya bisa dirumuskan: "Solusi Al-Qur'an dalam Penyembuhan Kecanduan Gim Online (IGD)".
Langkah 2: Menentukan Disiplin Kolaboratif
Untuk kasus IGD, disiplin yang relevan adalah Psikologi, karena fokus pada perilaku, motivasi, dan gangguan mental. Tujuannya: menemukan titik temu antara pesan moral Qur'an dan penjelasan ilmiah psikologi.
Langkah 3: Pengumpulan Data Kedua Disiplin Ilmu
Di sini, peneliti harus mengumpulkan dua jenis data:
-
Data Qur'ani: identifikasi isyarat ayat dan himpun penafsiran dari berbagai sumber dan corak tafsir. Ada ayat yang menyebut "permainan" (la'ib/ya'ab), ayat yang menyebut qulubun maradh (hati yang sakit), dan ayat tentang fungsi Al-Qur'an sebagai hudan (petunjuk), mau'zhah (nasihat), syifa' lima fi al-shudur (obat bagi hati), dan rahmah (rahmat).
-
Data Ilmiah: himpun data tentang IGD menurut lembaga otoritatif (APA, WHO) dan temuan ilmuwan terdahulu terkait batasan mental disorder dan teori kesehatan mental.
Langkah 4: Analisis dan Integrasi
Inilah tahap paling krusial. Dari 20 kali penyebutan kata la'ib/ya'ab dalam Al-Qur'an, hanya satu kali disebutkan permainan dengan makna bermain dan bersenang-senang bagi anak-anak. Selebihnya bermakna negatif atau tidak baik. Permainan orang dewasa digandengkan dengan ejekan (huzuwan wa la'iban), gurauan (la'ibun wa lahwun), tenggelam dalam kebatilan (fi khaudhin ya'abun), serta keragu-raguan (fi syakkin ya'abun).
Menariknya, 15 kali penyebutan permainan dalam bentuk fi'il mudhari' mengacu kepada subjek orang yang mendustakan unsur-unsur agama—mereka adalah orang kafir, musyrik, dan sebagian munafik.
Lalu, bagaimana dengan konsep mental? Dalam Al-Qur'an, mental disejajarkan dengan qalbun (hati). Mental disorder disejajarkan dengan qulub maradh (hati yang sakit). Ibnu Manzhur dalam Lisan al-Arab memaknai qalbun sebagai pekerjaan akal yang menghasilkan pemahaman dan pemikiran, sebagaimana QS. Al-Hajj: 46 menyebut qulubun ya'qiluna biha (hati yang dengannya mereka berpikir). M. Quraish Shihab memahami qulub sebagai potensi manusia yang dengannya manusia menjalankan fungsi kognisi.
Kata qulub atau qalbun yang bergandengan dengan kata maradh muncul sebanyak 13 kali dalam 12 tempat, mengacu pada penyakit nonfisik. Ada tiga makna penyakit mental qulub maradh dalam Al-Qur'an:
-
Penyakit mental berupa kepura-puraan dan menyembunyikan sesuatu.
-
Penyakit mental berupa keraguan layaknya orang yang lemah iman atau lemah akal.
-
Penyakit mental berupa rencana jahat atau keinginan buruk dalam pikiran manusia.
Tabel Korespondensi Gejala IGD dan Perspektif Al-Qur'an
Gejala IGD (Menurut APA)Jenis Mental Disorder Perspektif Al-Qur'anAsyik bermain terus menerusMental yang lemahMenarik diri, gelisah, cemas, marahMental yang lemahMengabaikan kebutuhan dan kewajibanBerpura-puraKehilangan kontrolMental yang lemahKehilangan minatMental yang lemahTerus bermain meski ada masalahBerpura-pura, mental yang lemahBerbohongBerpura-pura, punya rencana atau keinginan burukPelarian dari masalahMental yang lemah, berpura-pura sehingga lari dari masalahKonsekuensi negatifBerpura-pura tidak peduli dengan konsekuensi negatif
Selain itu, tinjauan teori makkiyah dan madaniyah juga memperkaya analisis. Dalam kelompok ayat makkiyah, makna permainan mengacu pada pembangunan pondasi tauhid yang kuat, dengan 11 kelompok ayat mengacu pada perilaku orang kafir/musyrik. Sedangkan 5 kelompok ayat madaniyah mengacu pada orang kafir, ahli kitab, dan orang munafik—peringatan agar orang beriman tidak tertipu dengan kehidupan dunia yang diumpamakan sebagai permainan.
Langkah 5: Rumuskan Temuan dan Kesimpulan
Dari analisis di atas, lahirlah kesimpulan yang digerakkan oleh teori-teori modern:
-
Teori Faith and Mental Health dari Harold G. Koenig: kesehatan mental sangat dipengaruhi oleh religiusitas.
-
Four Level of Healing dari Shakti Gawain: dari empat jenis penyembuhan (spiritual, mental, emosional, dan fisik), spiritual sangat berpengaruh pada mental healing.
Maka, rumusan temuan akhirnya adalah:
"Semakin tinggi religiusitas seseorang, maka semakin sehat mentalnya."
Penutup: Menjadi Penafsir yang Berdialog dengan Zaman
Pendekatan interdisipliner bukanlah upaya "memaksakan" ilmu modern ke dalam Al-Qur'an, melainkan membaca Al-Qur'an dengan bantuan ilmu lain untuk menemukan makna yang lebih dalam dan aplikatif. Ia mengajarkan kita bahwa tafsir bukanlah menara gading yang terpisah dari realitas, melainkan jembatan yang menghubungkan wahyu dengan kehidupan manusia.
Bagi kita, mahasiswa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, kemampuan ini adalah keniscayaan. Kita dituntut bukan hanya menguasai teks, tetapi juga memahami konteks. Bukan hanya hafal ayat, tetapi juga mampu mendialogkannya dengan problem zaman—entah itu kecanduan gim online, fenomena sosialita, krisis mental, atau isu-isu kontemporer lainnya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Dirangkum Oleh: Mas Virin /Mahasiswa Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UMS. Tulisan ini diinspirasi dari kuliah tamu "Pendekatan Interdisipliner dalam Studi Al-Qur'an dan Tafsir" oleh Dr. Irhas, M.Ag (IAIN Takengon) di UIN Raden Fatah Palembang.